Product Updates

Harus Tahu, Begini Perkembangan Industri Fintech di Indonesia

Team Xfers
May 2, 2022

Seiring perkembangan teknologi yang makin masif, transaksi keuangan mulai beralih ke platform digital. Layanan financial technology alias fintech pun tumbuh subur di Indonesia. Perkembangan fintech di Indonesia semakin besar di tengah meluasnya layanan internet dan terbatasnya akses perbankan konvensional. Jumlah fintech yang melayani transaksi digital pun makin bertambah. Tidak hanya layanan transaksi business to consumer, namun juga business to business.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah fintech di Indonesia hingga pada awal 2017 adalah 600. Banyaknya jumlah fintech ini didorong oleh perubahan kebiasaan belanja masyarakat dan meluasnya jaringan infrastruktur komunikasi. Perkembangan fintech di Indonesia tak hanya dilihat dari jumlah, namun juga transaksi yang terjadi. Pada 2017, transaksi fintech di Indonesia adalah Rp18,6 miliar. Jumlah tersebut terus mengalami kenaikan hingga pada 2021 dengan angka mencapai Rp37,1 miliar. 

Dukungan negara untuk industri fintech

Perkembangan fintech di Indonesia tentu saja tak lepas dari dukungan negara. Selama ini, negara sudah banyak mengucurkan dana untuk membantu perkembangan industri fintech. Bukan tanpa alasan, fintech adalah industri yang terasa manfaatnya, tidak hanya untuk konsumen namun juga usaha lain. Dalam hal ini, fintech hadir dalam bentuk perusahaan teknologi transaksi digital yang memudahkan UMKM mengelola keuangannya, mulai dari menerima pembayaran hingga membuat laporan bulanan.

Pada 2022, ekspansi pembiayaan merchant e-commerce dengan memanfaatkan fintech diprediksi akan semkain masif. Fintech diprediksi bakal bekerja sama dengan platform e-commerce dan menyediakan pembiayaan bagi para merchant.

Selain itu, fintech juga akan melakukan ekspansi yang lebih luas ke pembiayaan microfinance seperti personal finance atau warung. Ke depannya, fintech bisa lebih berkembang lagi dengan menawarkan digital investment platform seperti insurtech, reksa dana, hingga pembelian surat utang dalam satu platform.

Cara membedakan fintech legal dan ilegal

Perkembangan fintech di Indonesia yang makin pesat nyatanya tidak hanya mendatangkan manfaat baik. Pasalnya, ada oknum dengan niat jahat yang memanfaatkan momentum perkembangan fintech untuk membuat layanan financial technology ilegal. Sebagai pemilik bisnis, Anda harus jeli akan adanya fintech ilegal ini. Jangan sampai salah pilih dan terjebak dalam fintech ilegal. Berikut cara membedakan fintech legal dan ilegal.

  1. Cara mengetahui fintech legal
  • Terdaftar di OJK dan memiliki izin resmi operasional.
  • Informasi perusahaan jelas, OJK pun dapat memastikan kalau perusahaannya benar ada.
  • Perusahaan fintech legal maksimal memberikan bunga 0,8 persen per hari ke peminjam, sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh OJK.
  • Berstatus legal sesuai dengan POJK 77/POJK.01/2016.
  1. Cara mengetahui fintech ilegal
  • Fintech ilegal tidak memiliki legalitas perusahaan dan tidak terdaftar di OJK.
  • Denda, bunga, dan biaya yang dibebankan kepada nasabahnya sangat tinggi dan cenderung tidak jelas dalam penagihan. Proses penagihan pun cenderung kasar dan tak beretika.
  • Fintech ilegal akan meminta akses data konsumen, termasuk kontak, mikrofon, dan kamera.
  • Tidak memiliki layanan pengaduan, tidak ada lokasi perusahaan pasti, dan kerap menggunakan modus SMS spam dalam menawarkan produk. 
  • Proses pengajuan dana sangat mudah, bahkan tidak menanyakan keperluan peminjam.

Tips memilih perusahaan fintech dengan cermat

Agar terhindar dari tipu daya fintech ilegal, maka Anda perlu cermat saat akan meminjam dana dari penyedia layanan. Ketika ada fintech yang menawarkan dana dengan persyaratan mudah, bahkan tidak ditanya keperluan peminjaman, maka Anda harus cermat sebab bisa jadi ini termasuk fintech ilegal. Persyaratan peminjaman dana boleh jadi mudah, namun di akhir Anda akan dikenakan bunga sangat tinggi. Waspada pula dengan cara penagihan fintech ilegal yang cenderung kasar dan melakukan berbagai cara.

Oleh karena itu, sebelum Anda meminjam dana dari fintech, pastikan dulu tujuannya bersifat produktif, seperti untuk mengembangkan bisnis. Jika tujuannya cenderung konsumtif, misalnya untuk beli barang branded atau gadget baru, sebaiknya urungkan niat karena risiko terjebak utang akan lebih tinggi.

Nah, itu tadi penjelasan mengenai perkembangan fintech di Indonesia. Maraknya fintech memang di satu sisi bisa mendatangkan kemudahan dalam hal layanan finansial, namun di sisi lain berisiko menjebak Anda dalam utang. Cermatlah dalam memilih fintech dan pilih yang legal dan aman seperti Xfers. Xfers adalah layanan payment solution yang sudah diakui oleh CB Insights sebagai salah satu Perusahaan Fintech Teratas tahun 2021 dan bisa membantu bisnis dalam menerima pembayaran, mengirim pembayaran keluar, dan menyusun laporan keuangan.

Ready to get started?
Onboard your business with us today!